Bekasi, ppdi.co.id — Di penghujung tahun 2025, tepatnya pada hari senin (29/12/2025), Dewan Pengurus Pusat Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (DPP PPDI) mengutus dua orang perwakilan yaitu Annas Cahya (Humas DPP PPDI) dan Ida Wahyuni (Wakil Bendahara DPP PPDI) untuk menghadiri kegiatan Seminar “Design Vokasi Inklusif CEVEST” yang diselenggarakan di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bekasi.

Dalam acara seminar dihadiri pula oleh narasumber diantaranya Prof. Dr. Ir. Netti Herawati, M.Si. (Wakil Rektor UPN Veteran Jakarta), Sri Retno Yuliani, M.Psi. (Psikolog), Anggun Sintana, SE., MM (Direktur Bina Penempatan Tenaga Kerja Khusus Ditjen Binapenta & PKK), Jonna Aman Damanik (Anggota Komisi Nasional Disabilitas) dan beberapa tamu undangan lainnya serta Organisasi Penyandang Disabilitas.

Yose Rizal, S.TP., M.M.
Sambutan dan penyampaian yang dilakukan oleh Kepala BBPVP yaitu Bapak Yose Rizal, S.TP., M.M. menurutnya “kegiatan ini menjadi ruang strategis untuk membahas pengembangan desain vokasi yang inklusif, yakni sistem pelatihan kerja yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali, termasuk penyandang disabilitas. Seminar ini juga sekaligus menegaskan komitmen BBPVP Bekasi dalam mengarusutamakan prinsip inklusivitas pada pelatihan vokasi melalui kolaborasi lintas sektor, serta melahirkan ide-ide baru yang segar dan orisinal. ujar Kepala BBPVP

Menurut pemaparan Prof. Dr. Ir. Netti Herawati, M.Si. (Wakil Rektor UPN Veteran Jakarta) menekankan pentingnya peran institusi pendidikan tinggi dalam mendukung pengembangan vokasi inklusif. Menurutnya, dunia pendidikan harus mampu menghadirkan kurikulum, metode pembelajaran, serta fasilitas yang ramah disabilitas. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga pelatihan vokasi menjadi kunci dalam menyiapkan sumber daya manusia yang inklusif dan siap kerja.
Ibu Sri Retno Yuliani, M.Psi. (Psikolog) juga menegaskan pentingnya pendekatan psikologis dan sosial dalam desain vokasi inklusif. beliau menyampaikan bahwa pelatihan vokasi tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis, tetapi juga harus memperhatikan aspek kepercayaan diri, kesiapan mental, serta dukungan lingkungan bagi penyandang disabilitas agar dapat berkembang secara optimal dan berkelanjutan.
Menurut pemaparan ibu Anggun Sintana, SE., MM (Direktur Bina Penempatan Tenaga Kerja Khusus, Ditjen Binapenta & PKK) memaparkan kebijakan dan strategi pemerintah dalam mendorong penempatan kerja bagi kelompok berkebutuhan khusus, termasuk penyandang disabilitas. beliau juga menegaskan komitmen Kementerian Ketenagakerjaan dalam memperkuat sinergi antara pelatihan vokasi, dunia usaha, dan dunia industri agar lulusan vokasi inklusif memiliki peluang kerja yang setara dan berkelanjutan.
Serta menurut bapak Jonna Aman Damanik (Anggota Komisi Nasional Disabilitas) menyoroti pentingnya pemenuhan hak atas pekerjaan dan pelatihan bagi penyandang disabilitas sebagaimana diamanatkan dalam peraturan perundang-undangan. Ia menekankan bahwa desain vokasi inklusif harus melibatkan partisipasi aktif penyandang disabilitas sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi, agar benar-benar menjawab kebutuhan nyata di lapangan.
Keikutsertaan DPP PPDI dalam kegiatan ini, diharapkan terbangun kolaborasi yang semakin kuat antara pemangku kepentingan guna mewujudkan sistem vokasi nasional yang inklusif, adil, dan berkesetaraan, sehingga penyandang disabilitas memiliki akses yang setara terhadap pelatihan dan kesempatan kerja di Indonesia.























